SENANDUNG RINDU DI UFUK KELABU
SENANDUNG
RINDU DI UFUK KELABU
Oleh : Putri Puji Lestari
Mentari pagi telah berseri, desir angin pun menghampiriku yang
tengah duduk termenung di tepi pantai. Burung-burung pagi sibuk lalu-lalang
berterbangan dan seakan membawa khayalku terbang jauh pada sebuah kejadian
pahit di masa silam. Ya! Tepat hari ini, genaplah lima tahun ibuku tercinta
meninggalkan dunia ini. Setelah cukup lama berjuang, pada akhirnya beliau harus
mengalah jua pada kanker jahat yang telah lama tinggal di dalam darahnya. Aku sedih bukan main saat itu! Bagaimana tidak,beliau
meninggal di pangkuanku dengan darah yang terus saja keluar dari hidungnya.
Setelah kejadian itu, cukup lama aku marah pada diriku sendiri. Bukan karena
apa-apa, tapi karena aku merasa bodoh membiarkan ibuku terbaring lemas tanpa
membawanya pada orang yang bisa mengobatinya. Namun apalah dayaku, penghasilan
bapak untuk makan sehari-hari pun rasanya belum cukup,ditambah dengan usiaku
yang masih belia sehingga yang bisa aku lakukan hanya diam dan merelakan. Tapi
di balik semua itu aku bahagia! Aku tahu, dengan lepasnya nyawa ibu dari
jasadnya lepas pula sakit yang dideritanya. Maka sebagai seorang hamba aku
hanya bisa menjalani takdir. Tak bias menolak walau aku tak ingin melewatinya apalagi aku harus berteriak melawan
nasib, itu takkan mungkin!
“Ivi?“ Tiba-tiba
sebuah suara yang tak asing terdengar di telingaku dan seakan memecah
lamunanku. Aku yakin itu suara Fatih, sahabatku. Orang-orang di sekitarku
memang senang memanggilku dengan sebutan Ivi
yang konon diambil dari penggalan namaku, Silvia Nur Latifah.
“Sedang apa kamu ko
melamun disini?“ Belum sempat aku membalas sapaannya,dia kembali berbicara
padaku.
“Aku hanya menikmati udara pagi” Jawabku
menyembunyikan kesedihan.
“Kamu nangis?kenapa?” Dia kembali bertanya padaku, yang mana
pertanyaan itu menandakan bahwa aku telah gagal menyembunyikan kesedihanku.
“Aku tak apa-apa, aku hanya ingat ibu.” Terpaksa aku berkata
jujur pada Fatih walau pada mulanya aku tak ingin ada yang tahu tentang kesedihanku.
Alasannya adalah karena dia dan keluarganya yang terlalu baik padaku. Aku telah
cukup merasa banyak berhutang budi pada
mereka dan tak ingin menambahnya lagi. Tapi kekuatan persahabatan sepertinya
telah mengalahkan semuanya. Fatih selalu
saja dapat merasakan semuanya! Perasaan di kala aku sedang susah dan sedih.
Fatih tersenyum
padaku, serentak dia menarik tanganku dan membangkitkanku. Tubuhku terangkat
naik dan aku rasa semangatku pun ikut naik. Tak lama setelah itu, kami segera
berangkat ke sekolah karena hari sudah semakin siang. Ternyata, duduk dan
merenung tadi membuat aku lupa bahwa hari ini adalah hari penentuan terakhirku
di sekolah. Ya! Hari ini adalah hari kelulusanku di SMP. Tepat hari ini, aku
akan diberi keputusan besar setelah tiga tahun aku menimba ilmu. Lelah dan
letihku selama ini akan terbayarkan jua. Hanya sebuah kata lulus/tidak lulus
dalam selembar kertas, tapi sangat bermakna besar bagi setiap orang dan begitu
pun aku. Dalam setiap langkahku saat ini,terselip sebuah harapan besar untuk
mendapatkan kata lulus bertanda tangan kepala sekolah dan dapat berdiri di
depan lapangan sebagai seorang yang berprestasi, hanya itu!
Perjalananku dan
Fatih terhenti sesaat, tak terasa kita
telah sampai di sekolah. Aku berlari meninggalkan Fatih menuju ke sebuah papan
tua yang rupanya telah dipenuhi siswa-siswi lain. Layaknya mereka, aku mencari
namaku dalam lembaran kertas yang ditempel pada mading tua itu. Cukup lelah aku
mencari, namun pada akhirnya aku menemukan namaku. Aku senang bukan main ketika
kulihat sebuah tulisan lulus di sebelah namaku. Aku segera mencari Fatih dan ku
lihat dia tak kalah senangnya denganku, berarti dia juga lulus. Namun tak hanya
sampai disitu kebahagiaanku, aku juga berhasil berdiri di barisan orang-orang
yang berprestasi, walaupun aku hanya dapat meraih posisi ketiga. Senyuman lebar
di wajahku seakan melukiskan kebahagiaanku saat hendak dikalungi medali.
Sesekali aku melihat Fatih yang tak henti-hentinya tersenyum sambil
mengacungkan jempolnya untukku. Aku tak menyangka, kesedihaku pagi tadi berubah
menjadi kebahagiaan dalam waktu yang begitu singkatnya.
Komentar
Posting Komentar