GITA CINTA DI SMA

GITA CINTA DI SMA
Oleh : Dedes Desti

Muhammad Faisal Al-Hadad, itulah namaku. Orang-orang di sekitarku biasa memanggilku dengan sebutan Ical. Membaca dan bernyanyi adalah hobiku sejak kecil. Mengapa? Karena, membaca selalu mengajariku apa arti dunia yang sesungguhnya, dan bernyanyi merupakan caraku untuk mengobati rasa lelah setelah bergelut dengan dunia yang penuh problematika ini.
          Cahaya fajar tampak benderang di ufuk timur. Artinya, hari telah pagi. Ku persiapkan diriku untuk kembali menimba ilmu sebagai tumpuan hidup di masa depan. Setelah dirasa siap, ku langkahkan kakiku menuju tempat aku menimba ilmu saat ini. Di sebuah Sekolah lanjutan tingkat atas Bandung, di sanalah tepatnya. Tempat aku bertemu dan berbincang dengan sahabat-sahabatku  dan tempat dimana aku menggantungkan cita-citaku setinggi mungkin untuk selanjutnya ku petik jika masanya telah tiba.  
          Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah setelah beberapa pekan aku libur. Hari ini juga adalah hari dimana siswa-siswi baru sibuk daftar untuk masuk ke SMA. Selain itu, sepertinya hari ini juga adalah hari yang kurang bersahabat denganku. Aku diminta oleh orang tua dari salah satu calon siswi baru yang sedang mendaftar di sekolah tempat aku menimba ilmu untuk menemani putrinya. Dengan alasan ‘ingin membeli makanan sebentar’, ibu tersebut meninggalkan aku bersama putrinya itu. Meski sebenarnya aku tengah sibuk, namun tanggung jawabku seakan tak bisa menolak permintaan ibu itu.  
 Aku segera duduk di samping wanita itu sebagai pertanda bahwa aku siap menemaninya. Setelah beberapa lama tak ada satu topik pun yang kami bicarakan. Aku hanya bisa diam mematung, begitu pun dia. Namun, sesekali aku meliriknya. Bagaimana tidak? Wajahnya yang begitu cantik seakan menarik perhatianku untuk tertuju padanya. Sampai ku sadari bahwa waktuku pun telah terbuang cukup banyak untuk menemani siswi baru ini.                                                          Cukup lama aku menunggu, namun ibu dari wanita itu tak jua datang dan selama itu pula, tak ada perbincangan apapun diantara kita. Akhirnya aku memberanikan diri untuk memulai pembicaraan dengan menanyakan ibunya yang tak kunjung datang itu.“Ibu kamu kok belum datang juga ya?” Kalimat cukup singkat yang pertama yang keluar dari mulutku.
“ Iya Kak. Ibu kemana ya?” Jawab wanita cantik itu dengan suara yang lembut.
          Aku pun bingung apa yang harus aku  lakukan. Bel berbunyi, tandanya jam pelajaran akan dimulai. Tapi ibu wanita itu belum terlihat juga. “Bagaimana ini, jam pelajaran akan segera dimulai sedangkan ibu yang tadi belum datang juga. Kalau aku pergi, bagaimana dengan wanita ini. Aku kan sudah di beri kepercayaan oleh ibu itu untuk menemani dan menjaga anaknya. Jika aku pergi berarti aku telah melanggar sebuah kepercayaan.” Gumamku dalam hati. Akhirnya, aku memutuskan untuk tetap menemani wanita itu karena itu adalah tanggung jawabku.  Tiba-tiba, suara lembut kembali terdengar di telingaku. “Kak, kalau kakak mau pergi. Silakan saja, aku tidak apa-apa kok. Biar aku sendiri yang  tunggu ibu disini”. Wanita itu kembali berbicara kepadaku. “Ohh, tidak apa-apa. Biar kakak tetap temenin kamu disini. Lagi pula kan ini adalah tanggung jawab kakak”. Aku menolak tawaran dari wanita itu.
          Tak lama setelah itu, ibunya  datang dengan membawa makanan yang dibelinya. “Aduh, Nak. Maaf ibu lama beli makanannya. Makasih sudah nemenin anak ibu”. Ujar ibu tersebut sambil menatap diriku dengan penuh rasa terima kasih. “Ibu bangga sama kamu,jarang ada anak muda jaman sekarang yang seperti kamu. Kamu anak yang bertanggung jawab.” Ibu itu kembali melontarkan pujiannya padaku. Aku hanya tersenyum mendengarnya. Setelah ibunya datang, aku langsung berpamitan karena aku harus kembali masuk kelas seperti biasanya.
          Beberapa hari berlalu, akupun mulai menjalani aktivitasku dan pendaftaran siswa baru pun berakhir. Artinya siswa baru pun mulai belajar layaknya seorang peserta didik seperti biasanya. Tibalah aku pada hari dimana aku mendapatkan sepucuk surat dari seseorang. Dan sahabatku yang bernama Aneu lah yang menyampaikannya padaku.
“Cal, ada surat nih. Dari Nafisah adik kelas kita”. Jelas Aneu padaku.
“Nafisah mana?” Tanyaku ingin tahu.
“Nafisah Azzahra Shahab, wanita yang waktu itu kamu temani saat pendaftaran” Aneu menjelaskannya padaku.
“Oh, mana suratnya?” Aku meminta surat itu setelah aku ingat orang yang dimaksud Aneu.
“Nih, katanya jangan lupa bales ya. Terus balesnya jangan lama-lama” Tegasnya kembali. Aku hanya tersenyum dan mengambil surat yang dia berikan padaku.
Masa demi masa berlalu sudah, bukan hanya sekali surat itu aku dapatkan darinya. Namun tak sepucuk surat pun yang aku balas. Alasannya, karena aku tak ingin terjerumus pada pergaulan yang salah. Namun, dia tetap saja memberi surat padaku dan sampai pada surat yang terakhir ku terima, isinya  adalah sebuah permintaan untuk pulang bersama, lebih tepatnya untuk mengantarnya pulang. Tadinya permintaan itu akan aku tolak, namun sahabatku Aneu terus saja memaksaku untuk menerima tawaran itu. Dengan alasan kasihan sebab selama ini kamu tak pernah membalas surat darinya”. Akhirnya, dengan terpaksa aku menerima ajakan wanita yang bernama Nafisah itu untuk mengantarkannya pulang.                                                 Dalam perjalanan, aku dan Nafisah hanya saling terdiam tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami. Hingga tibalah aku dan Nafisah di depan rumahnya.
“Afi, sekarang kita sudah sampai di depan rumahmu. Itu artinya tugasku mengantarmu pulang telah selesai. Karena itulah, aku pamit pulang” Ucapku padanya. Kali ini aku memanggilnya dengan sebutan Afi, itulah panggilanku untuknya.
“Tunggu Kak, Boleh kita bicara dulu sebentar?” Ucapnya dengan sorot mata penuh harapan.
          Kuputuskan untuk mendengarkan apa yang ingin dia bicarakan, dari suratnya selama ini aku sudah menduga tentang apa yang ingin dia bicarakan. Ternyata dugaanku benar,
“Kak Sebenarnya, sejak pertama kali kita ketemu aku sudah mengagumi kakak” Kalimat pertama yang keluar dari bibir manisnya itu. Mendengar kalimatnya itu, segera ku lemparkan senyum untuknya. Kutatap dia yang mulai menghela nafas untuk melanjutkan kalimatnya itu.
“Saat aku sadari, kini aku tidak hanya sekedar mengagumi, tapi aku mulai memiliki perasaan yang lebih dari itu” Lanjutnya.
          Aku semakin bingung dengan apa yang dia maksud.
“Intinya?”Aku menanyakan inti dari semua pembicaraannya itu.
 “Jadi, apakah kakak mau jadi pacarku?” tanyanya padaku. Aku terpaku dan kaget mendengar kata-kata darinya. Dia sungguhlah wanita yang sangat pemberani. Aku tidak sedikit pun menyangka bahwa dengan rupaku yang tidak begitu tampan ini, dan keadaan ekonomiku yang dapat dikatakan rendah, ternyata aku bisa dicintai oleh seorang wanita cantik yang ada di depanku saat ini. Seorang wanita yang memiliki banyak talenta seperti halnya menari, bernyanyi, berolahraga, dan pandai melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an ini. Meski hatiku belum sepenuhnya percaya pada Afi, namun pada akhirnya aku menerima permintaan Afi untuk menjadi pacarnya.
“Jika memang itu kemauanmu, kakak akan terima permintaan Afi untuk menjadi pacar kakak” balasku pertanda aku setuju.
          Tiga bulan sudah kami berdua menjalani hidup dalam sebuah ikatan, berbagai suka dan duka telah kami lalui. Keramahan dan kebaikan dari orang tua Afi pun telah aku rasakan. Mereka sepenuhnya menyetujui hubungan kita dengan berbagai alasan. Salah satunya karena mereka percaya bahwa putrinya akan hidup bahagia bila bersanding denganku. Hal itu sempat terlintas di benakku bahwa Allah memang telah menakdirkan Afi untuk menjadi jodohku. Namun ternyata semua itu salah, hingga tibalah aku pada suatu hari dimana pada hari itu sikap Afi tiba-tiba berubah padaku. Olahraga adalah kegiatanku saat itu. Saat di lapangan mataku tak henti-hentinya mencari keberadaan Afi, sampai pada akhirnya aku temukan Afi.
“Assalamu’alaikum…” Sapaku padanya. Namun apa yang terjadi? Afi tidak sama sekali menjawab salamku. Dia malah menjauh ketika aku mencoba mendekatinya. Kucoba untuk menyapanya kembali. Namun responnya sama saja. Dia malah berkata “Tau ahh!” dengan nada yang tinggi. Aku semakin bingung apa yang terjadi pada Afi. Aku mulai bertanya apa alasannya, hingga Afi berkata “Udahlah! Kalau udah bosan ya udahan aja”. Aku kaget mendengar kata-kata dari mulutnya saat itu. Terus ku mencoba mengintrospeksi diriku sendiri, dan akhirnya aku temukan letak kesalahanku yang menjadi jawaban atas berubahnya sikap Afi. Ternyata, sebabnya adalah kejadian malam minggu lalu. Tepatnya ketika aku bercanda dengan temanku, aku pernah berkata bahwa aku bosan malam minggu berduaan terus dengan Afi.                                                                                      Temanku yang juga mencintaiku sama seperti Afi saat itu menjadikan ini sebagai jalan untuk bisa menghancurkan hubungan kami. Dia mengadukan apa yang telah aku katakan malam itu. Sikap Afi yang keras kepala membuatnya salah faham atas semua ini. Hingga pada akhirnya pikiranku buntu dan aku tak tahu harus berbuat apa. Sampai pada akhirnya, aku mendatangi nenek temanku yang memiliki pengetahuan lebih tentang kehidupan dan menceritakan semua yang terjadi diantara hubunganku dan Afi. Walau mereka berkata bahwa kemungkinan besar Afi bukanlah jodohku, aku merasa bahwa masih ada cara lain untuk meluluhkan sikap Afi yang keras kepala itu. Entah mengapa hatiku berat jika harus kehilangan Afi, walaupun pada awalnya aku tak punya perasaan sama sekali. Namun pada saat hatiku telah terbuka untuk Afi, mengapa disaat itu pula Afi menutup pintu itu sekeras-kerasnya, entahlah! Tapi bagaimana pun juga aku akan tetap mencoba merebut hatinya kembali.
          Dengan membawa sebuah botol kecil berisi minyak kelapa, nenek itu menghampiriku.
“Untuk apa ini?” Tanyaku kebingungan.
“Kau bisa mencobanya dengan ini, teteskan saja ini pada tempat air yang kemungkinan besar airnya akan diminum olehnya. Jika berhasil berarti dia memang jodohmu, namun jika gagal berarti dia bukan untukmu”.  Jelas nenek itu padaku.
“Sebuah pelet kah? Gagal? Maksudnya?” Aku belum cukup faham dengan apa yang dikatakan nenek itu.
“Bisa dikatakan begitu, tapi ini hanya minyak kelapa biasa, tidak berbahaya. Gagal dalam artian kau bisa saja lupa dengan rencana ini. Ingat, ini hanya sebuah syari’at dan yang menentukan jodoh atau tidaknya itu hanya Allah SWT” Nenek itu kembali menjelaskan.
          Aku mengangguk tanda mengerti. Esok harinya aku pergi ke rumah Afi. Dengan menyerahkan semua kembali pada Allah, aku pergi dengan harapan dapat merebut hati Afi kembali. Namun ternyata takdir Allah berkata lain. Saat tiba di rumahnya, tak sedikitpun aku ingat tentang rencana itu. Bahkan aku baru sadar ketika aku dalam perjalanan pulang. Saat itu hatiku sedih namun takjub. Sedih karena aku tak bisa memiliki Afi, dan takjub karena Maha Agungnya Allah yang telah menjawab semua usahaku. Sejak saat itu baru aku sadar bahwa Afi bukanlah nama yang Allah tuliskan di garis tanganku.
Sejak saat itu tak pernah lagi aku mengharapkan cinta dari Afi. Aku juga jadi belajar bahwa jodoh itu memang tiada yang tahu. Semuanya adalah takdir yang tak bisa kita tentang. Jika cinta itu milik kita, securam apa pun jalannya pasti akan bertemu. Sebaliknya jika cinta bukan milik kita, sedekat apa pun itu pasti akan menjauh juga.


TAMAT              

Komentar